BANGGAI KEPULAUAN – Perdebatan mengenai rencana investasi tambang batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan semakin ramai di media sosial. Dalam beberapa pekan terakhir, berbagai unggahan, komentar, memperlihatkan adanya perbedaan pandangan yang cukup tajam antara kelompok yang mendukung dan menolak masuknya investasi tersebut.
Di satu sisi, sejumlah pengguna akun media sosial di Facebook secara aktif menyuarakan dukungan terhadap investasi tambang batu gamping. Sementara di sisi lain, akun pegiat lingkungan, dan sejumlah pengguna media sosial menyampaikan penolakan dengan berbagai alasan yang berkaitan dengan aspek lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam.
Kelompok yang menolak berpendapat bahwa Banggai Kepulauan merupakan kawasan yang memiliki bentang alam karst yang perlu mendapat perhatian khusus. Mereka khawatir aktivitas pertambangan dapat berdampak terhadap ekosistem, sumber daya air, sektor perikanan dan kelautan, serta potensi pariwisata yang selama ini menjadi salah satu andalan daerah.
Selain itu, mereka menilai pembangunan daerah tidak harus bertumpu pada sektor pertambangan. Potensi ekonomi berbasis kelautan, pertanian, dan pariwisata dinilai dapat menjadi alternatif pembangunan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat Banggai Kepulauan.
Di sisi lain, pendukung investasi tambang batu gamping menilai kehadiran investor dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah. Mereka menyebut investasi berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), membuka lapangan pekerjaan, serta mendorong pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Perbedaan pandangan itu kemudian berkembang menjadi perang opini di ruang digital. Berbagai narasi terus bermunculan, baik yang mendukung maupun yang menolak rencana pertambangan batu gamping di wilayah Banggai Kepulauan.
Dalam perkembangan di media sosial kampanye pro tambang batu gamping bahkan beredar informasi mengenai pemberian hadiah atau apresiasi kepada pengguna media sosial yang aktif berpartisipasi dalam kampanye digital pro tambang tersebut.
Hingga kini polemik perang opini di media sosial melalui akun Facebook mengenai investasi tambang batu gamping semakin ramai. Sebagian masyarakat memandang investasi sebagai peluang untuk meningkatkan kesejahteraan dan pembangunan daerah, sementara sebagian lainnya menilai perlindungan lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam harus menjadi prioritas utama.
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, masyarakat diharapkan dapat menyikapi setiap informasi secara kritis, mengedepankan data dan kajian yang objektif, serta menghormati perbedaan pandangan dalam membahas masa depan pembangunan Banggai Kepulauan. **






