Reses di Mendono Usulan Warga Dominaasi Perkebunan, Peternakan dan Perikanan

BANGGAI – Usulan program sektor perkebunan, peternakan dan perikanan mendominasi usulan warga Kelurahan Mendono, Kecamatan Kintom, Banggai di agenda reses anggota Komisi III, DPRD Banggai, H. Syafruddin Husain, S.H., M.H.

Agenda reses itu dilaksanakan untuk menjaring aspirasi Masyarakat sebelum pembahasan rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Banggai tahun 2027.

Agenda reses seolah menjadi momen istimewa bagi warga setempat. Selain bersua dengan wakil rakyat pilihannya, warga dapat memanfaatkan untuk menyampaikan aspirasinya dalam bentuk program Pembangunan.

Terasa istimewa, karena saluran aspirasi di agenda reses dinilai paling maksimal menyalurkan kebutuhan program pembangunan dibandingkan saluran melalui musyawarah perencanaan pembangunan atau musrenbang yang setiap tahun berjenjang dilaksanakan.

“Torang pe usulan (usulan kami) sudah disampaikan di musrenbang, tapi jarang terakomodir,” ujar salah satu warga Mendono yang ikut reses H. Syafruddin Husain, Jumat (30/1/2026) malam.

Haji Udin-sapaan karib Syafruddin Husain menjelaskan bahwa hasil reses akan diinput dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

Dalam penganggaran, kata Haji Udin yang juga Ketua DPC PKB Banggai ini, terdapat proses perencanaan, sehingga reses dilaksanakan awal tahun. Demikianlah tahapannya.

Sebelum menjaring aspirasi di Kelurahan Mendono, Haji Udin juga telah melakukan agenda serupa di Desa Sukamaju, Kecamatan Toili dan Desa Ombolu, Batui Selatan.

“Kami akan semaksimal mungkin mengakomodir kebutuhan masyarakat Mendono,” terangnya.

Ia memaparkan, tahun ini terdapat pemangkasan anggaran. Ia berharap, anggaran 2027 kembali stabil.

Dalam reses mengemuka usulan penambahan panjang jalan kantong produksi. Penambahan kantong produksi dianggap hal paling utama dari sejumlah usulan program.

Jalan kantong produksi di Mendono dibutuhkan petani kelapa dalam dan berbagai jenis tanaman tahunan lainnya.

Untuk menjangkau perkebunan, warga Kelurahan Mendono dan Mondonun harus menempuh perjalanan cukup jauh. Berjam-jam, bahkan hingga seharian. Warga merasa terbantu ketika turun dari kebun, karena dapat menggunakan rakit bambu untuk mengangkut hasil perkebunan mereka.

Menuju areal Perkebunan, mereka berjalan kaki. Praktis, jalan yang dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua belum separuh hingga ke Perkebunan.

Areal yang menjadi Perkebunan itu, Sebagian besar tak lagi terurus dan sudah kembali menjadi hutan. Dengan pembukaan jalan kantong produksi itu, warga Mendono dan Mondonun seperti kembali bersemangat membuka lahan yang sempat ‘tertidur’.

Selain kembali berkebun, akses jalan yang terbuka membuka peluang besar untuk membuka lahan baru. Sekaligus mempermudah transportasi, memangkas jarak berjam-jam lamanya.

Selain perkebunan, sektor peternakan juga menjadi usulan penting. Warga menaruh harap, agar bantuan bibit ternak semisal sapi dapat diwujudkan.

Tak hanya itu, sektor perikanan diusulkan untuk diwujudkan. Tiga sektor itu dinilai mampu mereka jalankan, karena memang keseharian mereka adalah pekebun dan nelayan.

Haji Udin merespon beragam usulan itu. Ia meminta kepada warga setempat untuk menyiapkan segala kebutuhan administrasinya untuk mendukung usulan program direalisasikan.

Ia meminta, untuk sektor perkebunan dan perikanan, warga harus mendaftarkan anggota kelompoknya di Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian atau Simluhtan. Setelah terdaftar di Simluhtan, langkah berikutya Adalah pembuatan surat keputusan dari pemerintah setempat untuk keabsahan kelompok tani atau kelompok nelayan.

Informasi tambahan, untuk kelompok tani, maka seluruh anggota kelompok harus ber-KTP petani. Demikian halnya dengan kelompok nelayan, KTP-nya tertulis sebagai nelayan.

Haji Udin mengingatkan kepada warga, agar usulan dalam bentuk proposal bantuan paling lambat Februari ini, agar masuk dalam SIPD (sistem informasi pemerintah daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *