BANGGAI – PT Pertamina EP (PEP) Donggi Matindok Field menghadirkan inovasi bagi sektor pertanian melalui pemanfaatan pupuk Bioferdom di kebun percontohan (demplot) tanaman jagung Desa Kayowa, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.
Inovasi tersebut memanfaatkan produk sampingan fasilitas PEP Donggi Matindok Field berupa sulfur. Melalui fermentasi bakteri, sulfur diolah menjadi biosulfur kaya unsur hara S. Unsur vital bagi kesuburan tanah yang selama ini absen pada pupuk subsidi. Biosulfur tersebut kemudian dikombinasikan dengan pupuk guna menghasilkan komposisi pupuk organik optimal.
Senior Officer Relations Pertamina EP Donggi Matindok Field, Syair, menjelaskan bahwa pemanfaatan Bioferdom mampu menekan ketergantungan petani pada pupuk kimia komersial berbiaya tinggi.
“Melalui pupuk Bioferdom, petani mendapatkan akses unsur hara S yang sangat dibutuhkan tanaman tanpa harus membeli pupuk ZA komersial berharga mahal. Di kebun percontohan ini, kami membagikan takaran ideal 1 ton per hektar,” ujar Syair di sela kegiatan Media Visit Apresiasi Jurnalistik Pertamina (AJP) di Desa Kayowa, Jumat (2/10/2026).
Selain memasok pupuk, PEP Donggi Matindok Field memberikan edukasi berkelanjutan melalui Sekolah Lapang serta penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya pertanian modern. Petani dibekali pemahaman mendasar mengenai pola tanam, kecukupan nutrisi, hingga teknik pengendalian hama.
“Petani sebelumnya belum memiliki formulasi untuk menghasilkan produksi panen yang maksimal, mulai dari teknik menanam, jarak tanam hingga edukasi berkelanjutan,” kata Syair.
Ia menambahkan, perbaikan kondisi lahan berbanding lurus dengan peningkatan efisiensi operasional dan pendapatan masyarakat lokal.
“Pupuk Bioferdom ini untuk memperbaiki tanah. Lahan percontohan seluas satu hektare bisa menghasilkan hingga enam ton. Bioferdom ini sambil berjalan juga terus kami selidiki dan kembangkan,” tuturnya.
Dampak nyata penerapan inovasi ini dirasakan oleh Kelompok Tani Mosaangu. Ketua Kelompok Tani Mosaangu, Beni Irawan, menyebut pendampingan intensif dan penggunaan Bioferdom membantu menekan biaya pemupukan secara drastis.
“Dulu kami belum paham SOP penanaman dan pemupukan yang benar. Setelah didampingi dan menggunakan pupuk Bioferdom, kualitas tanaman jagung kami sangat baik dan tahan meskipun di musim kemarau. Pengeluaran untuk pemupukan berkurang drastis sehingga efisiensi anggaran dapat tercapai,” ungkap Beni.
Pada kebun percontohan seluas 1 hektar yang ditanami sekitar 22 kilogram bibit jagung, produksi panen melonjak dari sebelumnya rata-rata 3 ton menjadi 6 ton per hektar, dengan estimasi nilai penjualan menembus lebih dari Rp24 juta.
Saat ini, program integrasi pertanian ini telah melibatkan 26 petani binaan dengan cakupan total area budidaya mencapai 33 hektar di wilayah Batui. Program tersebut diharapkan dapat terus direplikasi ke wilayah lain guna memperkuat kemandirian pupuk dan ketahanan pangan daerah. (AL)








