Diguncang Gempa Warga Masing Panik, Sejumlah Fasilitas Rusak

BANGGAI – Warga Desa Masing, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, dibuat panik setelah gempa mengguncang wilayah tersebut dan dilaporkan mengakibatkan sejumlah fasilitas publik mengalami kerusakan.

Kepanikan warga semakin meningkat setelah muncul informasi dugaan kebocoran pipa gas di salah satu titik wilayah desa. Aparat desa yang sedang berkantor langsung bergerak setelah menerima laporan warga terkait dugaan kebocoran pipa yang disertai kebakaran di sekitar lokasi.

Kebakaran tersebut diduga dipicu percikan api dari aktivitas pembakaran kebun yang tidak berjauhan dari titik kebocoran.

Di tengah situasi tersebut, warga juga melaporkan kerusakan sejumlah fasilitas publik kepada Kepala Desa Masing, Andi Tahang. Kerusakan dilaporkan terjadi pada jembatan, tiang listrik, hingga bangunan sekolah yang mengalami kerusakan akibat pergeseran tanah.

Setelah menerima laporan, kepala desa segera berkoordinasi dengan aparat terkait dan pihak perusahaan. Aparat desa juga diarahkan untuk segera melakukan evakuasi warga menuju titik kumpul atau jalur evakuasi yang telah ditentukan.

Namun, proses evakuasi menghadapi kendala karena akses jalan mengalami kerusakan. Jembatan di dua titik dilaporkan ambruk, baik dari arah Luwuk maupun dari arah Toili, sehingga menyulitkan mobilisasi warga dan tim penanganan darurat.

Kepala Desa Masing kemudian menghubungi pihak JOB Tomori untuk meminta bantuan sekaligus menyampaikan laporan mengenai dugaan kebocoran pipa gas serta adanya rumah warga yang ambruk dan diduga terdapat korban.

Situasi tersebut merupakan bagian dari simulasi tanggap darurat kebencanaan yang digelar JOB Tomori sebagai rangkaian kegiatan Sosialisasi Rencana Tanggap Darurat Kebencanaan.

Sosialisasi dan simulasi ini JOB Tomori berkerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banggai, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banggai, Basarnas Luwuk, serta Pemerintah Desa Masing.

Simulasi berlangsung di Desa Masing, Kecamatan Batui Selatan, Selasa (18/8/2026) dengan skenario menggambarkan kondisi darurat pascagempa, kerusakan fasilitas, gangguan akses evakuasi, hingga dugaan kebocoran pipa gas.

Simulasi ini dilakukan untuk menguji kesiapsiagaan seluruh pihak dalam menghadapi kondisi darurat sekaligus memastikan koordinasi dan mekanisme evakuasi dapat berjalan secara cepat dan terukur. (AL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *