Dari Balik Jeruji ke Pasar Tradisional: Selada Hidroponik Karya Napi Lapas Luwuk Diborong Pengepul

Amad Labino
Amad Labino • Celebes News Agency

BANGGAI — Pembinaan kemandirian di bidang pertanian bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk, Kabupaten Banggai, telah menunjukkan hasil positif. Tanaman hortikultura jenis selada yang dikembangkan melalui sistem hidroponik kini telah menembus pasar lokal.

Sabtu (10/10/2026) pagi, para warga binaan yang merawat tanaman tersebut melakukan panen perdana sebanyak 90 kantong. Sebanyak 83 bungkus dipasarkan melalui Pasar Tradisional Simpong dan 7 bungkus lainnya dijual ke ruang kunjungan lapas. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan hasil pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga memiliki jalur pemasaran yang nyata. Melalui kegiatan ini, warga binaan memperoleh pengalaman praktis dalam mengelola hasil pertanian, menjaga kualitas produk, serta memahami proses distribusi dan penjualan.

Warga binaan berinisial M mengungkapkan rasa bangganya atas hasil panen yang dapat dipasarkan secara langsung.

“Rasanya bangga dan senang bisa melihat hasil panen dari perawatan kami sendiri sampai bisa dijual. Di sini kami belajar kalau bertani itu perlu telaten jaga kualitas hasilnya supaya diterima pasar. Harapan kami, keterampilan ini betul-betul bisa jadi bekal hidup saat kami kembali ke masyarakat nanti,” tuturnya.

Respons positif juga datang dari Mak Wati, pedagang di Pasar Simpong. Ia menyampaikan bahwa produk sayuran segar memiliki peluang untuk terus dipasarkan apabila kualitas dan ketersediaannya terjaga.

“Kalau sayurannya segar dan kualitasnya bagus, tentu bisa dipasarkan kepada pembeli. Kami berharap hasil pertanian dari Lapas Luwuk bisa terus tersedia sehingga masyarakat juga punya pilihan untuk mendapatkan sayuran segar,” ujar Mak Wati.

Kalapas Luwuk Muhammad Bahrun menegaskan bahwa kegiatan panen selada ini merupakan bagian dari komitmen Lapas Luwuk dalam memperkuat pembinaan kemandirian warga binaan melalui sektor pertanian yang produktif dan berorientasi pada pemasaran.

“Bagi kami, keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari berapa banyak hasil pertanian yang dipanen, tetapi juga dari sejauh mana hasil tersebut dapat dipasarkan dan memberikan nilai manfaat. Hari ini, 90 bungkus selada berhasil dipanen… Ini merupakan langkah nyata dalam membangun ekosistem pembinaan yang produktif, mulai dari proses budidaya, panen, hingga pemasaran,” ungkap Bahrun.

Ia juga menambahkan bahwa program pertanian di dalam lapas diharapkan mampu membekali warga binaan dengan keterampilan yang aplikatif, menumbuhkan etos kerja, serta membangun rasa tanggung jawab dan kepercayaan diri untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana. (AD)

Komentar

Belum ada komentar.

Ayo kirimkan komentar positif Anda kepada pembaca sekarang juga