BANGGAI – Joint Operating Body (JOB) Pertamina–Medco E&P Tomori Sulawesi menggelar Sosialisasi Rencana Tanggap Darurat Kebencanaan di Desa Masing, Kecamatan Batui Selatan, Selasa (18/8/2026). Kegiatan bertempat di Kantor Desa Masing itu merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana, termasuk gempa bumi dan risiko yang berkaitan dengan jalur pipa gas yang melintasi wilayah tersebut.
Sosialisasi melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banggai, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banggai, Basarnas Luwuk, pemerintah desa, serta masyarakat setempat.
Field Senior Manager JOB Tomori, Abidzar Akan, mengawali sambutannya mengajak seluruh peserta untuk mendoakan masyarakat yang sedang terdampak bencana di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat mengingat Desa Masing berada di kawasan pesisir dan dekat dengan jalur pipa gas yang juga memiliki potensi risiko gempa bumi.
Menurutnya, pengalaman bencana gempa dan liquifaksi di Palu beberapa tahun lalu menjadi pelajaran penting untuk memperkuat langkah-langkah mitigasi sejak dini.
“Kami berharap masyarakat tidak panik ketika terjadi bencana. Melalui sosialisasi ini, masyarakat dapat memahami langkah-langkah yang harus dilakukan saat menghadapi keadaan darurat. Ke depan, kami ingin Desa Masing menjadi salah satu desa tangguh bencana,” ujar Abidzar.
QHSE Senior Manager JOB Tomori, Romy Irvan Prasetyo, mengatakan kegiatan tersebut sangat penting sebagai bentuk antisipasi terhadap berbagai potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu dan berpengaruh terhadap keselamatan masyarakat maupun infrastruktur perusahaan.
“Kejadian yang terjadi beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa potensi bencana selalu ada. Karena itu, melalui kegiatan ini kita bersama-sama mempersiapkan diri dan meningkatkan kapasitas menghadapi situasi darurat,” terang Romy.
Sementara itu, Kepala Desa Masing, Andi Tahang, menyampaikan bahwa desanya memiliki lebih dari 2.000 jiwa penduduk dengan 661 kepala keluarga. Menurutnya, keberagaman masyarakat menjadi tantangan tersendiri dalam membangun kesadaran bersama terkait mitigasi bencana.
Peserta yang mengikuti kegiatan tersebut dapat menjadi perpanjangan informasi kepada masyarakat lain yang belum sempat hadir.
“Harapan saya, kegiatan ini dapat memberikan edukasi kepada masyarakat. Yang terpenting, peserta yang hadir dapat menyampaikan kembali informasi yang diperoleh kepada warga lainnya sehingga pemahaman mengenai kesiapsiagaan bencana semakin luas,” harap Andi Tahang.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan perusahaan, Desa Masing dapat berkembang menjadi desa yang tangguh terhadap berbagai ancaman bencana.
Dalam sesi materi, Sekretaris BPBD Kabupaten Banggai, Nurlaela Abdullah memaparkan tentang siklus penanggulangan bencana, peran masyarakat dalam mitigasi dan kesiapsiagaan, serta pentingnya simulasi kebencanaan secara berkala di wilayah rawan bencana.
BPBD juga mengingatkan masyarakat agar memperoleh informasi kebencanaan dari sumber resmi seperti Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD guna menghindari penyebaran informasi hoaks yang kerap muncul saat terjadi bencana.
Selain itu, aparat desa diminta aktif menyampaikan informasi dan edukasi kepada masyarakat. Saat ini, potensi bencana yang dominan di Kabupaten Banggai meliputi banjir, gempa bumi, dan kebakaran hutan serta lahan.
Pada kesempatan yang sama, Safety Section Head JOB Tomori, Muhammad Fatoni, memberikan materi mengenai mitigasi risiko kebocoran pipa gas. Ia menjelaskan bahwa gempa bumi, longsor, dan likuefaksi merupakan beberapa faktor yang dapat memicu gangguan pada jaringan pipa.
Menurutnya, gas alam merupakan sumber energi yang harus dikelola dengan standar keselamatan tinggi karena mengandung senyawa tertentu yang dapat membahayakan apabila terjadi kebocoran.
“Kami selalu memastikan gas tetap berada di dalam sistem pipa. Jika terjadi kebocoran, risikonya dapat menimbulkan keracunan maupun kebakaran. Karena itu berbagai sistem pengamanan telah diterapkan,” jelas Fatoni.
Ia menerangkan bahwa jaringan pipa gas ditanam pada kedalaman lebih dari dua meter, dilengkapi rambu-rambu peringatan, menggunakan material tahan korosi, serta diawasi melalui inspeksi dan pemeliharaan rutin.
Selain itu, sistem operasi pipa dirancang dapat menutup secara otomatis apabila terdeteksi gangguan sehingga risiko kebocoran dapat diminimalkan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banggai, Andi Rustam Pettasiri, dalam sambutannya menyoroti persoalan dampak pencemran lingkungan yang dikeluhkan masyarakat, khususnya terkait kondensat.
Ia berharap untuk segera mencari solusi sehingga tidak menimbulkan gangguan bagi masyarakat. Menurutnya, persoalan tersebut telah lama menjadi perhatian warga maupun wakil rakyat.
“Keluhan mengenai kondensat tidak hanya disampaikan oleh masyarakat Desa Masing, tetapi juga telah menjadi perhatian berbagai pihak. Karena itu perlu langkah konkret agar persoalan ini segera ditangani,” tegasnya.
Melalui sosialisasi tersebut, JOB Tomori bersama pemerintah daerah berharap terbangun pemahaman yang lebih baik mengenai mitigasi bencana, keselamatan jalur pipa gas, serta pentingnya kolaborasi semua pihak dalam mewujudkan masyarakat yang tangguh dan siap menghadapi situasi darurat.
Sosialisasi yang dihadiri unsur Forkopincam Kecamatan Batui Selatan tersebut dirangkaikan dengan simulasi yang melibatkan sejumlah fasilitas milik JOB Tomori (AL)












